Bagian pertama dari memoar Mubarak, yang diterbitkan di surat kabar Rose al-Youssef Mesir pada Senin lalu, menelusuri berbagai tahap kehidupannya mulai dari masa kecil yang miskin.
Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintah dengan kemampuan keuangan yang terbatas, yang hanya bisa mendapatkan sedikit uang yang tidak cukup untuk mendukung keuangan anak-anaknya. Dia juga menceritakan bagaimana ibunya menderita banyak masalah keuangan dan akhirnya mengajukan tunjangan.
Dalam memoarnya, Mubarak menambahkan bahwa situasi keuangan keluarga mereka mulai relatif lebih baik pada tahun 1949 ketika ia bergabung dengan Akademi Angkatan Udara. Namun, di awal, katanya, ia terpaksa selalu mengenakan seragam militer karena ia tidak memiliki uang untuk membeli pakaian dan bagaimana rekan-rekannya mengolok-olok dia setelah mengetahui betapa miskinnya dirinya.
Memoar, yang ditulis oleh seorang wartawan terkenal yang dibayar $ 250.000, mengungkapkan bagaimana Mubarak bermimpi menyingkirkan kemiskinan dan meningkatkan kesenjangan sosial. Memoar ini juga menunjukkan bagaimana istrinya Suzanne minta cerai beberapa kali sampai ia menjadi presiden.
Mubarak juga berbicara tentang hubungannya dengan mendiang Presiden Anwar Sadat yang sering menghinanya dan menuduhnya bodoh. Mubarak menjelaskan bahwa ditunjuk menjadi wakil Sadat sebagai salah satu hari terindah dalam hidupnya. Sadat, menurut Mubarak, berencana untuk memecat dia pada tahun 1981, tapi keburu dibunuh sebelum ia bisa melakukannya.
Mubarak menyebutkan peristiwa 5 September di mana Sadat menangkap lebih dari 1.300 anggota oposisi dan menyatakan bahwa Mansur Hassan, yang kemudian menjadi menteri informasi, budaya, dan urusan presiden, keberatan dengan penangkapan dan kemudian diberhentikan dari posisinya.
Mubarak kemudian menceritakan juga mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang, katanya, bisa saja terlibat dalam pembunuhan mantan menteri luar negeri Libya, yang kemudian menjadi anggota oposisi, Mansur al-Kikhia, serta tokoh Syiah Libanon Mussa al-Sadr dan anak mertua Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Ashraf Marawan.
Kikhia, Mubarak menjelaskan, banyak mengkritik Qaddafi dan menimbulkan ancaman bagi pemerintahannya. Hal yang sama diterapkan untuk Mussa Al-Sadr yang Gaddafi undang untuk makan siang kemudian membunuhnya dan kemudian melemparkan tubuhnya ke laut.
Gaddafi, Mubarak menunjukkan, juga mencoba untuk membantu pelarian pembunuh Sadat dari penjara karena merasa bersyukur bahwa mereka membunuh musuhnya.
Edinburgh yang berbasis di Canongate, salah satu rumah penerbitan yang paling terkenal di Inggris, membeli hak cipta untuk memoar Mubarak dengan imbalan 10 juta pound sterling.(fq/aby/eramuslim.com)
