"PT Freeport mematuhi persyaratan dalam kesepakatan bersama dengan serikat buruh. Kami yakin para pekerja yang kembali ke tambang melakukan aksi kekerasan dan intimidasi terhadap para pekerja dan supervisor yang tidak ikut mogok kerja," kata Daisy.
Saat ini PT Freeport bekerja sama dengan para pimpinan serikat buruh dan pejabat pemerintah setempat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sementara itu, juru bicara serikat buruh PT Freeport Indonesia, Juli Parorongan, mengatakan terhentinya operasi tambang bukan akibat aksi mogok kerja.
"Perusahaan memutuskan untuk menghentikan operasi karena mereka mengatakan ada intimidasi terhadap karyawan yang tahun lalu tidak ikut mogok kerja," kata Juli pada Alice Budisatrijo dari BBC. Ia mengakui adanya tindakan intimidasi tersebut. Tapi itu bersifat pribadi, bukan dilakukan oleh serikat buruh.
Hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai kapan operasi tambang akan kembali normal. Sejumlah 8.000 dari 23 ribu karyawan Freeport mulai melakukan pemogokan sejak 15 September lalu. Mereka menuntut kenaikan gaji sebesar 20 kali lipat dari gaji minimum sebesar 1,50 dollar AS per jam menjadi 30 dollar AS per jam.
Dalam negosiasi untuk mengakhiri mogok, PT Freeport menyetujui peningkatan upah pokok sebesar 24 persen pada tahun pertama, dan 13 persen pada tahun kedua (atau setara dengan peningkatan sebesar 40 persen bila digabungkan selama dua tahun).
Selain itu, PT Freeport menyetujui berbagai peningkatan tunjangan, termasuk penambahan bonus kerja shift dan lokasi, tunjangan perumahan, bantuan pendidikan, dan program tabungan masa pensiun. (BBC/DOR/metrotv.com)
