-->

Jamu Ramuan Keraton, Bisnis Sederhana Peluang Besar

Kejelian melihat peluang selalu menjadi alasan banyak orang sukses membangun usaha bisnis. Apalagi jika yang ditawarkan adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa memproduksi karena merupakan warisan turun temurun.

Itulah yang dilakukan Raden Mas Soeryanto, pebisnis asal Solo yang menjadi generasi kesekian produsen beragam jamu-jamuan asli ramuan Keraton Solo yang dibeli label Jamu Wasiat Kraton Surakarta.

Di bawah bendera Fadhilatu Corp. yang berdiri sejak 1960-an, Soeryanto meneruskan bisnis keluarga yang memiliki semua resep ramuan tradisional jamu-jamuan asli keraton milik sang nenek.

Semula ramuan tradisional dipasarkan hanya untuk kalangan terbatas keluarga keraton saja, tetapi kini sudah dikemas sedemikian rupa dan diproduksi secara massal untuk masyarakat umum.

Setelah sekian lama bisnis turun temurun ini dijalankan oleh sang nenek yang bernama Raden Ayu Soemariyah, cucu kerabat Pakubuwono IX dari Keraton Solo ini akhirnya meneruskan bisnis ini sejak 1980-an.

"Nenek saya masih keturunan kerabat Keraton. Kebetulan beliau sering membuat ramuan tradisional jamu-jamuan yang biasa digunakan para ratu dan putri raja," ujar Soeryanto yang ditemui di sela-sela pameran batik di Solo, belum lama ini.

Sedikit bercerita tentang sejarah produk jamu-jamuan ini, dia menuturkan bahwa semua produk jamu-jamuan Wasiat Kraton Surakarta merupakan produk kecantikan yang banyak digunakan para perempuan kerabat keraton sejak dulu.

Dahulu, para raja keraton memiliki banyak selir yang jumlahnya bisa mencapai puluhan orang. Para selir saling berlomba-lomba merawat kecantikan mereka agar memikat sang raja.

Untuk menjaga kecantikan, mereka umumnya menggunakan jamu-jamuan yang diramu dari aneka daun dan empon-empon (umbi-umbian) tanaman yang ada di bumi nusantara.

Ramuan jamu-jamuan itu meliputi lulur, mangir, ratus, bedak cebuk cari, bedak dingin, aneka jamu minum, dan masih banyak lagi.

Karena sifatnya alami dan terbukti mampu menjaga kecantikan para selir raja, tentu saja banyak perempuan di luar kerabat keraton yang ingin mendapatkan resep ramuan tradisional tersebut untuk mereka pakai.

Dengan alasan itulah nenek Soeryanto mulai membuat dan meramu sendiri jamu-jamuan yang dipasarkan di luar kerabat keraton.

Jika dahulu ramuan tradisional itu hanya dikemas begitu saja, sejak 1980-an semua produksi RA Soemariyah dipasarkan dengan kemasan khusus dan diberi merek Jamu Wasiat Kraton Surakarta.

Hingga kini beberapa produk bahkan sudah mampu menembus pasar nasional dan internasional, seiring dengan semakin maraknya bisnis spa di kota-kota besar.

"Bahkan Ibu Martha Tilaar juga menggunakan banyak produk saya, salah satunya Ratus Dedes untuk ratus di semua outlet spa milik Mustika Ratu," ujar Soeryanto.

Bahannya yang alami dan dibuat dengan cara tradisional menggunakan tenaga manusia, membuat setiap produksi Jamu Wasiat Kraton Surakarta sangat eksklusif dan mahal.

Misalnya, 48 jenis ratus yang digunakan untuk mengharumkan badan perempuan, dihargai Rp15.000 per biji. Demikian juga dengan mangir atau lulur dihargai Rp7.500, jauh lebih mahal dibandingkan dengan produk serupa merek lain.

Tentu harga yang mahal sepadan dengan hasil dan kepuasan yang didapatkan, sekaligus khasiat yang diperoleh juga tidak mengecewakan.

Tidak heran banyak orang ingin menikmati kemewahan tradisi keraton ini dengan memesannya secara langsung kepada Soeryanto.

Namun harus sabar, jangan harap pesanan akan didapatkan secara cepat karena harus menunggu giliran.

Hal ini, menurutnya, dipengaruhi cuaca yang menentukan lamanya proses pembuatan setiap produk jamu-jamuan.

"Produk jamu-jamuan ini perlu proses pengeringan dan penjemuran di bawah sinar matahari, jadi kalau cuaca sedang tidak baik proses produksinya akan semakin lama," ujarnya.

Belum lagi banyak pesanan dari rumah spa dari Jakarta dan Bali yang sudah jadi langganan Soeryanto dan membeli produknya dalam jumlah banyak.

Namun jika Anda bertandang ke Solo, silakan datang ke kawasan dalem keraton Kasunanan Surakarta, tepatnya di Balorawati Tantama, karena produk Jamu Wasiat Kraton Surakarta ada di sana.

Meski demikian Soeryanto tidak segan berbagi resep tradisional jamu-jamuan keraton milik sang nenek. Menurut dia, bukan hanya sekadar tahu bahan dasar pembuatan jamu-jamuan ini saja yang perlu diketahui, proses pembuatan juga sangat menentukan hasil produk.

Setidaknya apa yang dilakukan Soeryanto ini patut dihargai sebagai upaya menjaga tradisi budaya nusantara yang patut dijaga kelestariannya agar terus lestari hingga ke anak cucu kelak. (BI/ciputraentrepreneurship.com)