Terlebih kondisi tersebut diperkirakan bakal terus berlangsung hingga empat bulan mendatang sesuai prediksi cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hal itu dikatakan Yudi usai rapat Komisi V DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (26/10/2010). "Kami melihat Pemprov DKI belum menunjukkan langkah-langkah signifikan dalam mengatasi banjir dan kemacetan di Ibukota. Hujan yang berlangsung selama tiga jam sejak Senin (25/10) sore membuat lalu lintas Jakarta lumpuh hingga menjelang tengah malam," ujar politisi yang juga menjabat Wakil Ketua DPP PKS tersebut.
Lebih lanjut Yudi mengatakan, jika kondisi semacam itu terus berlanjut, ia khawatir akan mendorong masyarakat frustasi. Selain itu, seringnya kejadian banjir dan kemacetan parah juga bisa mengganggu aktifitas ekonomi dan arus investasi ke Ibukota.
Menurut Yudi, dilihat dari sisi anggaran, besarnya anggaran untuk menangani banjir di DKI Jakarta sudah sangat besar dan setiap tahun terus meningkat. Yudi menyontohkan untuk tahun 2008 saja anggaran pengendalian dan penanganan banjir telah mencapai Rp 916,36 milyar, tahun 2009 telah menembus angka Rp 1,08 trilun, bahkan di tahun 2010 terus naik menjadi Rp 1,34 triliun. Tingginya alokasi anggaran pengendalian dan penanganan banjir di Ibukota ternyata tidak sebanding dengan dampak perbaikan yang dihasilkan. Ini bisa saja karena Pemprov DKI kurang fokus atau memang tidak berupaya membuat langkah-langkah dan terobosan baru, kecuali sebatas menaikkan anggaran banjir.
Sementara itu, anggaran untuk mengatasi banjir Jakarta terus meningkat setiap tahunnya. Tetapi, banjir masih melanda di sejumlah titik ibu kota. Maka itu, DPR berencana memanggil Gubernur DKI Fauzi Bowo untuk meminta klarifikasi.
"Anggaran untuk menangani banjir di DKI Jakarta sudah sangat besar dan setiap tahun terus meningkat," kata anggota Komisi V DPR, Yudi Widiana Adia, dalam keterangan tertulis.
Yudi mencontohkan, untuk tahun 2008 saja anggaran pengendalian dan penanganan banjir telah mencapai Rp916,36 miliar, tahun 2009 telah menembus angka Rp 1,08 triliun. "Bahkan di tahun 2010 terus naik menjadi Rp 1,34 triliun," kata dia.
Dia menilai, tingginya alokasi anggaran pengendalian dan penanganan banjir tidak sebanding dengan dampak perbaikan yang dihasilkan. Menurut Yudi, hal ini kemungkinan karena Pemprov DKI kurang fokus atau memang tidak berupaya membuat langkah-langkah dan terobosan baru, kecuali sebatas menaikkan anggaran banjir.
"Itulah mengapa kami berkepentingan memanggil Gubernur DKI untuk membicarakan solusi-solusi maupun terobosan dalam mengatasi persoalan banjir dan kemacetan di DKI Jakarta," tegas Yudi.
Yudi mengusulkan komisinya segera memanggil Fauzi Bowo untuk membicarakan penanganan banjir dan kemacetan yang makin parah, terutama saat turun hujan. Terlebih kondisi itu diperkirakan bakal terus berlangsung hingga empat bulan mendatang sesuai prediksi cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Saat hujan deras kemarin sore hingga malam, Jakarta kembali terendam banjir di sejumlah titik. Alhasil, kemacetan terjadi di banyak titik. Bahkan, satu mahasiswi tewas di Cipete, Jakarta Selatan, karena terseret arus deras banjir.
Sedangkan Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo merasa beruntung tidak terjebak kemacetan parah semalam. Ia bahkan tidak tahu bahwa hujan dan banjir kemarin sore telah benar-benar melumpuhkan Ibukota ini.
"Saya hanya dapat cerita saja. Saya sangat beruntung karena rapat terus menerus di sini (DPR)," kata Agus di DPR.
Jadwal Menteri Keuangan kemarin memang cukup padat di DPR. Sejak pukul 11 siang, rapat maraton sudah digelar untuk mengejar deadline paripurna pada hari ini.
Jadwal yang diikuti Agus kemarin adalah rapat di Komisi XI DPR RI pukul 11, dan kemudian dilanjutkan rapat di Badan Anggaran mulai pukul 14.00 WIB sampai dengan 18.30 WIB. Setelahnya Menkeu masih harus mengikuti rapat di Komisi IX yang membicarakan tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sejak pukul 19.00 WIB sampai 23.00 WIB.
"Jadi kesan macet saya tidak tahu," kata Agus bercanda.
Tapi dari cerita dan pemberitaan yang ada, Agus mengaku turut prihatin atas kejadian banjir dan macet semalam. Meski macetnya Jakarta sudah biasa, tetapi jika anggota dewan sampai menyoroti tentu kasusnya terlihat istimewa.
Namun demikian, Menkeu memiliki saran spesial buat Gubernur DKI Fauzi Bowo untuk menangani banjir yang menimbulkan kehebohan luar biasa.
"Harusnya Pemda DKI mempersiapkan sistem airnya untuk kondisi tidak hanya musim panas, tapi juga dikelola untuk musim hujan," kata dia. (fn/lp/v2v) www.suaramedia.com
