Ramdhania El Hida - detikFinance Jakarta - Pemerintah siapkan dana cadangan jika terjadi gangguan ketidakstabilan harga pangan dunia (dana kontingensi) karena pengaruh iklim sebesar Rp 2 triliun. Dana ini sudah dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2010.
"Dalam APBN Perubahan 2010 dana cadangan itu Rp 1 triliun untuk beras dan Rp 1 triliun untuk stabilisasi," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (13/8/2010).
Namun, Hatta belum memastikan penggunaannya. Yang pasti karena dana ini dianggarkan untuk alokasi tahun ini, sudah tentu pemanfaatannya juga harus pada tahun ini pula.
"Itu kan dana cadangan, ya untuk cadangan. Artinya kalau ada apa-apa, kita sudah siap," jelasnya.
Hatta menyatakan pemerintah terus memantau terhadap perkembangan harga pangan dan produksinya atas fenomena gelombang panas yang menerpa Rusia dan sebagian wilayah Asia lain.
Selain menyediakan cadangan dana, untuk mengantisipasi kenaikan harga pangan dunia karena pengaruh iklim, pemerintah juga mempersiapkan 3 cara lain yaitu dengan menjaga produksi pangan, menyosialisasikan kepada petani untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, serta menjaga stabilitas harga pangan.
"Menjaga stabilitas harga pangan, baik operasi pasar maupun percepatan raskin, pasar-pasar murah. Menjaga hal-hal yang berkaitan dengan apakah itu pupuk,lahan, subsidi benih, harus berjalan pada perlindungan petani kita, jelasnya.
Sementara itu, Deputi Menko Bidang Pertanian dan Kelautan Dyah Maulida kemungkinan besar dana cadangan stabilisasi harga pangan terpakai, memang cukup besar. Ia mencontohkan selain Rusia, Australia yang menjadi sumber impor gandum Indonesia juga mengalami gangguan produksi.
"Produksi gandum dari Australia mundur, jadi kemungkinan harga naik memang besar," ujarnya pada kesempatan yang sama.
Kalau sampai harga gandum naik, seperti dikatakan Menteri Perdagangan harga komoditi substitusi gandum seperti kedelai dan jagung juga diperkirakan akan ikut naik. Dari kemungkinan itu pemerintah bisa melihat kebutuhan akan stabilisasi pangan dibutuhkan atau tidak.
"Saat ini, pemerintah selalu waspada karena ada kemungkinan dengan terganggunya gandum, harga komoditi lain juga akan ikut naik, tapi kalau terpakai menstabilisasi tepung dan terigu itu tidak disemester ini, tapi mungkin 2011," tandasnya.
(nia/ang)
"Dalam APBN Perubahan 2010 dana cadangan itu Rp 1 triliun untuk beras dan Rp 1 triliun untuk stabilisasi," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (13/8/2010).
Namun, Hatta belum memastikan penggunaannya. Yang pasti karena dana ini dianggarkan untuk alokasi tahun ini, sudah tentu pemanfaatannya juga harus pada tahun ini pula.
"Itu kan dana cadangan, ya untuk cadangan. Artinya kalau ada apa-apa, kita sudah siap," jelasnya.
Hatta menyatakan pemerintah terus memantau terhadap perkembangan harga pangan dan produksinya atas fenomena gelombang panas yang menerpa Rusia dan sebagian wilayah Asia lain.
Selain menyediakan cadangan dana, untuk mengantisipasi kenaikan harga pangan dunia karena pengaruh iklim, pemerintah juga mempersiapkan 3 cara lain yaitu dengan menjaga produksi pangan, menyosialisasikan kepada petani untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, serta menjaga stabilitas harga pangan.
"Menjaga stabilitas harga pangan, baik operasi pasar maupun percepatan raskin, pasar-pasar murah. Menjaga hal-hal yang berkaitan dengan apakah itu pupuk,lahan, subsidi benih, harus berjalan pada perlindungan petani kita, jelasnya.
Sementara itu, Deputi Menko Bidang Pertanian dan Kelautan Dyah Maulida kemungkinan besar dana cadangan stabilisasi harga pangan terpakai, memang cukup besar. Ia mencontohkan selain Rusia, Australia yang menjadi sumber impor gandum Indonesia juga mengalami gangguan produksi.
"Produksi gandum dari Australia mundur, jadi kemungkinan harga naik memang besar," ujarnya pada kesempatan yang sama.
Kalau sampai harga gandum naik, seperti dikatakan Menteri Perdagangan harga komoditi substitusi gandum seperti kedelai dan jagung juga diperkirakan akan ikut naik. Dari kemungkinan itu pemerintah bisa melihat kebutuhan akan stabilisasi pangan dibutuhkan atau tidak.
"Saat ini, pemerintah selalu waspada karena ada kemungkinan dengan terganggunya gandum, harga komoditi lain juga akan ikut naik, tapi kalau terpakai menstabilisasi tepung dan terigu itu tidak disemester ini, tapi mungkin 2011," tandasnya.
(nia/ang)
