Para kolega senior sang perdana menteri berkumpul guna membahas konsekuensi peristiwa tersebut, yang melibatkan sang perdana menteri dan Gianfranco Fini setelah berbulan-bulan terlibat konflik.
Dua orang itu merupakan pendiri Partai Kemerdekaan Rakyat. Tapi, partai itu telah mengeluarkan dokumen yang mengecam Fini karena perbedaan pendapat secara terbuka.
Setelah menolak tawaran perdamaian dari rivalnya pada detik-detik akhir, Berlusconi mengatakan bahwa pemimpin partai menganggap posisi Fini tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip partai, komitmen terhadap konstituen yang telah memberikan suara, serta aktivitas perpolitikan.
Pada awal skandal yang berulang-ulang, Berlusconi dibuat geram dengan sikap Fini yang mengecam moralitas dan legalitas dalam pemerintahan Italia. Bentrokan keduanya tidak mungkin ditutup-tutupi.
Meski mendapat tekanan dari Berlusconi untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai juru bicara majelis rendah parlemen Italia, Fini menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak punya niatan melakukan itu.
Pada hari Jumat waktu setempat (30/7), para anggota dewan menuntut Berlusconi berpidato di hadapan Parlemen dan menjelaskan dampak keputusannya menyingkirkan Gianfranco Fini dari Partai Kemerdekaan Rakyat yang didirikannya bersama Fini.
Sang perdana menteri bertemu dengan seorang sekutu lain, yakni kepala Liga Utara, Umberto Bossi, yang dukungannya dianggap penting untuk menciptakan pemerintahan yang stabil, karena partainya memberikan kesempatan yang dibutuhkan gerakan Berlusconi untuk memerintah dengan nyaman.
Saat ditanya apakah perpisahan Berlusconi dengan Fini akan membuat pemilu harus dilaksanakan lebih awal, Bossi langsung mengacungkan jari tengah ke arah wartawan.
Berlusconi dan Fini yang telah menjalin aliansi sejak Berlusconi terjun ke dunia politik pada awal tahun 1990-an, telah berselisih selama berbulan-bulan mengenai nyaris segala permasalahan politik, mulai dari imigrasi hingga pembatasan penyadapan. Tapi, para pengamat beranggapan bahwa pertikaian itu lebih condong ke arah perebutan kekuasaan, bukannya perbedaan ideologis.
Partai Kemerdekaan Rakyat yang dipimpin Berlusconi merilis sebuah dokumen pada hari Kamis malam yang berisi tudingan bahwa Fini tengah "menciptakan partai dalam partai" dan membentuk gerakan oposisi yang "tak bisa ditoleransi dalam jajaran pejabat teras partai.
Para sekutu Fini di dewan lantas mengumumkan pengunduran diri mereka dari partai Berlusconi, tapi Fini menolak tekanan yang mendesaknya mengundurkan diri dari jabatan juru bicara dewan, sebuah jabatan yang didapat setelah ditunjuk para anggota dewan, bukan perdana menteri.
Fini diharapkan menyampaikan pernyataan pada hari Jumat waktu setempat. Fini sebelumnya memimpin Aliansi Nasional, yang kemudian dileburkan dalam wujud Partai Kemerdekaan Rakyat. Namun tetap saja para pendukung Fini mendapatkan kekuatan otonomi dalam parlemen Italia karena memenangkan 33 kursi di majelis rendah dan 14 di majelis tinggi, atau disebut Senat.
Partai Berlusconi menguasai 342 kursi di majelis rendah yang total terdiri dari 630 kursi, dan 175 kursi di Senat yang jumlah total kursinya 322.
Pada hari Kamis, Berlusconi mengotot dan menyatakan bahwa pemerintahannya tidak tengah ada dalam bahaya, ia juga menegaskan bahwa dirinya mendapat dukungan dari sebagian besar rakyat Italia.
Meski ada perpecahan, majelis rendah tetap meloloskan program penghematan kontroversial pada hari Kamis. Program itu bertujuan mengurangi defisit Italia.
Fabio Fois, seorang anails dari Barclay's Capital mengatakan bahwa diloloskannya program itu menandakan bahwa Fini tidak bertujuan mendiskreditkan pemerintahan Berlusconi, justru berusaha memberikan tekanan politik.
Pemerintahan Berlusconi saat ini mulai dilantik pada Mei 2008 dan mengemban mandat selama lima tahun. (dn/en/ap) www.suaramedia.com
