-->

Muslim - Katolik Bersatu Lawan Pernikahan Sesama Jenis

VALLETTA (Berita SuaraMedia) – Uskup Paul Cremona pagi ini menyerukan kepada negara Malta untuk membantu pasangan mempersiapkan untuk pernikahan berhubungan dengan sebuah peningkatan pada pasangan yang memutuskan menentang keyakinan pernikahan.

Berbicara pada sesi pembukaan sebuah seminar yang bertujuan untuk membahas peranan keluarga dari sebuah prespektif Muslim dan Kristen, disusun oleh Panggilan Masyarakat Dunia Islam (World Islamic Call Society), ia juga mengatakan bahwa media harus dipergunakan untuk mempromosikan pesan-pesan dalam membantu stabilitas pernikahan.

Ia mengatakan bahwa dukungan moral harus ditawarkan untuk orang-orang yang berusaha untuk mengatasi masa-masa sulit dalam pernikahan mereka, bukan hanya mereka yang ingin berpisah.

Cremona mengatakan bahwa menurut tradisi pernikahan Kristen adalah antara seorang pria dan seorang wanita, diciptakan dalam citra Tuhan dengan kehormatan yang sama, dimana pernikahan adalah sebuah hadiah dari Tuhan.

Ia mengatakan bahwa Gereja harus meyakinkan masyarakat bahwa agama memainkan peranan penting dan memberikan kontribusi yang penting dalam emmbesarkan anak-anaknya.

"Kehancuran keluarga juga membawa masalah besar bagi negara, bahkan masalah ekonomi," ia mengatakan.

Sementara itu, Ammar Hreba, kepala Pusat Islam dan Biro Perluasan, mengatakan bahwa bahkan menurut tradisi Muslim, pernikahan didasarkan pada pria dan wanita.

"Jika kami membiarkan keluarga hancur, terima kasih kepada arahan negatif media, hal ini akan membimbing bencana dan kehancuran. Pernikahan sesama jenis kelamin contohnya, menghancurkan kesatuan dari bagaimana keluarga dimulai dengan Adam dan Hawa."

Ia mengatakan bahwa negativitas di media membawa pada kekerasan, namun Panggilan Ilahi memungkinkan manusia untuk memepertahankan ras manusia.

Ia meminta kerja sama dari Gereja di Malta sehingga dalam sebuah semangat dialog mereka dapat menjaga keluarga mereka, dengan bekerja sama juga dengan pemerintah.

Muslim Malta, Mario Farrugia Borg memeperingatkan terhadap erosi nilai-nilai dan tantangan baru yang tidak ada 30 atau 40 tahun yang lalu, yang ia katakan merusak keluarga.

Ia mengatakan bahwa ini adalah sebuah pertanda baik bahwa Kristen dan Muslim bekerja sama karena mereka memiliki "begitu banyak kesamaan" dalam hal ini.

Sisa waktu dari seminar, dimana empat dokumen dibahas, tertutup untuk media. Diskusi tersebut juga diharapkan menyentuh masalah-masalah pertentangan seperti perceraian dan poligami.

Islam dipercaya telah diperkenalkan di Malta ketika Muslim menangkap bangsa Sisilia dari Byzantin pada tahun 870. Malta kembali ke sebuah kekuasaan Kristen dengan penaklukan Norman pada 1091. Para Muslim pada waktu itu diijinkan beribadah dengan bebas sampai abad ke-13.

Saat ini komunitas Muslim Malta sedikit, diperkirakan berdiri di angka 3000 orang. Dari angka tersebut 2.250 orang adalah penduduk asing, 600 orang adalah warga naturalisasi dan 150 orang berkebangsaan Malta asli. Terdapat satu masjid yang didirkan pada tahun 1978 oleh Panggilan Masyarakat Dunia Islam, sebuah asosiasi pemerintah Libia yang memajukan islam dan satu sekolah primer Muslim. (ppt/tom/wk) www.suaramedia.com