Belum memimpin sudah mengeluarkan pernyataan kontroversi. Jakarta tak butuh pemimpin liberal
Pernyataan calon wakil gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan
Jokowi, Basuki T Purnama alias Ahok, bahwa masyarakat dan penegak hukum
harus taat pada ayat konstitusi, bukan ayat suci, mendapat dukungan
kelompok liberal dan gerakan mahasiswa sekular.Maklum, pernyataan Ahok ini tentu saja merupakan angin segar bagi mereka yang selama ini mengampanyekan sekularisme, dimana agama dan pemerintahan harus dipisahkan.
![]() |
| Basuki T Purnama alias Ahok |
Dukungan lebih ekstrem datang dari Ketua Umum Gema Nusantara, Jay Muliadi. Selain mendungkung pemikiran yang memisahkan antara kepentingan ayat suci dan ayat konsitusi, Jay mengatakan, “Indonesia, khususnya Jakarta membutuhkan pemimpin yang berpikiran sekular dan liberal agar masyarakat pluralis dapat terbentuk secara baik.” Jay menambahkan, pemikiran pasangan Ahok-Jokowi bisa meminimalisir konflik di masyarakat yang mengatasnamakan agama.
Sikap
kontrovesi Ahok ini bermula dari pernyataannya yang mengeritik sikap
kelompok yang menjadikan dalil ayat suci untuk menolak artis pemuja
setan, Lady Gaga. Pikiran sekular-liberal Ahok sangat jelas tercermin,
ketika ia mengatakan, “Kita tidak boleh taat pada ayat suci. Kita taat
kepada ayat-ayat konstitusi.” Ahok juga menyatakan, mengapa ormas-ormas
yang menolak Lady Gaga tidak mau periksa pejabat korup?Pernyataan Ahok tentu saja mengusik keyakinan warga Jakarta yang dikenal taat beragama. Apalagi, jelas-jelas pernyataan tersebut diarahkan pada sebuah ormas Islam yang waktu itu menentang keras kehadiran Ratu Illuminati, Lady Gaga.Warga Jakarta yang mayoritas Muslim, meyakini bahwa Kitab Suci adalah undang-undang tertinggi dalam kehidupan, yang di dalamnya berisi aturan-aturan yang lengkap, termasuk aturan-aturan bernegara dan moralitas.
Jika Ahok mengatakan, kenapa ormas-ormas yang menolak Lady Gaga tidak mau memeriksa pejabat korup, ini tentu saja pernyataan bodoh dan menggelikan. Memeriksa koruptor adalah tugas aparat, bukan tugas ormas. Lagi pula, jika ormas Islam bergerak menangkap koruptor, nanti Ahok dan para aktivis-sekular liberal berteriak lantang, ”Jangan ambil alih tugas aparat. Urusan menangkap koruptor biar konstitusi yang mengatur!”
Mereka yang berpikiran sekular-liberal adalah orang-orang yang berpikiran kontradiktif dan mengalami disorientasi dalam beragama. Lalu, bagaimana bisa memimpin pemerintahan?
(artawijaya/salam-online/arrahmah.com)


