ResistNews - Rabu kemarin, 25 April 2012, situs resmi jama'ah Al-Tauhid Al-Islamy
kembali memberitakan tentang benarnya berita kematian Abdul Ghani
Jawhar. Setelah kebingungan selama tiga hari tentang berita mengenai
kematian alah satu pemimpin Gerakan Jihad Fathul Islam, Abdul
Ghani Jawhar, di Suriah ditengah-tengah kondisi yang masih misterius,
dan pihak keamanan Lebanon yang meragukan kebenaran berita tersebut,
majalah AS “Times” , kemarin, menguatkan berita kematian Jawhar dengan mengutip dari Pemimpin Tanzim itu (Fathul Islam).
Dalam laporan yang disusun oleh diektur kantor berita (Times) di Beirut, Aren Beker, bahwa pemimpin Tanzim, Usamah Al-Syihabi, mengatakan kepada Time
menegaskan kematian Jawhar, yang dipanggil Abu Hajir, di kota Al-Qashir
Jum’at sore lalu. Al-Syihabi yang ditunjuk sebagai Amir Fathul Islam tahun lalumenggantikan Abdurrahman Awadh berkata:”Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un,
Kami sebagai mujahidin mati itu bagi kami sudah biasa, Dan kemuliaan
yang diberikan oleh Allah kepada kami adalah mati syahid. Dan inilah
jalan kebenaran” tegas sang Amir.
Bagaimana Abu Hajir bisa terbunuh? Abu
‘Ali, teman dari Jawhar, menjawab bahwasanya Abdul Ghani menyiapkan bom
yang menargetkan pasukan Suriah, yang bersiap memasuki desa yang dekat
dengan kota Homs yang dikuasai oleh para pendukung revolusi. Ketika
detonatornya bergerak sebelum waktunya, disitulah ia terbunuh ditempat
(bomnya meledak.red).
Abdul Ghani Seorang Trainer dan Perekrut
Menurut Abu Ali dan penjuang lainnya,
yang tidak mau disebut namanya, keduanya berbicara melalui skype saat ia
mendengar suara ledakan, yang terpaksa menguburkan jasad Jawhar di
taman dekat dengan tempat terjadinya ledakan. Karena sulit untuk
mengakses pemakaman yang pada saat itu terjadi pertempuran sengit,
karena tentara Suriah menyerang kota Al-Qashir yang disana menjadi
tempat bertahannya pejuang Suriah, dan tidak memungkinkan untuk dikirim
ke Lebanon.
Abu ‘Ali menjelaskan bahwa Jawhar sampai
di kota Al-Qashir dua minggu lalu bersama 30 pejuang dari Lebanon.
“bagaimana bisa akhirnya seperti ini, sedangkan ia telah berniat melatih
para pejuang untuk mempersiapkan bom. Ia tidak lama berada di Al-Qashir
hingga ia bisa menanam puluhan ranjau yang menargetkan tentara Suriah.
Adapun tujuannya adalah mengunjungi daerah-daerah Suriah untuk melatih
para pejuang untuk melakukan perang Grilya” jelas Abu Ali.
Adapun sumber-sumber dari oposisi
Suriah, mereka mengkonfirmasikan kedatangannya ke Suriah baru-baru ini,
dimana ia merubah namanya menjadi Umar, saat petugas keamanan Lebanon
menguatkan kabar kematiannya.(usamah/tawhid)
